Kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terdapat potensi perputaran ekonomi raksasa yang diyakini mampu mengubah wajah pedesaan di Indonesia. Lebih jauh Best pratice keterlibatan BUMDesa dan KDMP sebagai mitra layanan program MBG akan mampu mendongkrak perekonomian sekaligus gizi masyarakat desa.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar program sosial, melainkan katalisator utama bagi peningkatan taraf hidup masyarakat desa.
Dalam sebuah diskusi santai namun substantif di kediaman dinasnya di Jakarta, Senin (16/3), Yandri menyoroti bagaimana rantai pasok bahan pangan untuk program nasional ini dapat memberdayakan petani dan peternak lokal secara langsung.
“Insya Allah, kegiatan MBG ini punya potensi besar untuk menaikkan taraf hidup masyarakat desa,” ujar Yandri, menyoroti efek ganda dari program tersebut.
Sudut pandang menarik yang ditawarkan Yandri adalah transformasi desa menjadi pusat produksi spesialis, atau yang disebut sebagai “Desa Tematik”.
Konsep ini dirancang agar setiap desa tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemain utama dalam menyuplai kebutuhan bahan pokok program MBG.
Alih-alih mendatangkan bahan baku dari pemasok besar di kota, program ini mendorong desa untuk mengoptimalkan potensi lokal mereka.
“Desa ayam petelur, desa jagung, desa ikan lele, ikan nila, hingga desa ayam pedaging; itu muncul sekarang,” jelas mantan Wakil Ketua MPR RI tersebut.
Mekanisme ini didukung oleh kebijakan fiskal yang konkret. Yandri mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, sebesar 20 persen dari Dana Desa dialokasikan khusus untuk program ketahanan pangan.
Strategi ini memastikan bahwa ketika permintaan bahan pangan untuk MBG meningkat, desa sudah siap dengan pasokan yang memadai, menciptakan siklus ekonomi yang berputar di tingkat akar rumput.
Selain dampak ekonomi, Yandri menekankan urgensi program ini dari sisi kemanusiaan. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kesenjangan gizi di wilayah pedesaan masih menjadi tantangan serius.
Banyak warga desa, menurut Yandri, masih kesulitan mengakses sumber protein hewani secara rutin. Kehadiran MBG menjadi jembatan untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut.
“Banyak warga desa itu memang secara gizi belum layak. Mereka jarang makan telur, jarang makan ayam, asupannya kurang,” ungkapnya dengan nada prihatin. “Nah, dengan adanya MBG ini mereka sangat berterima kasih.”
Di tengah munculnya berbagai diskursus publik mengenai efektivitas program ini, Yandri mengambil sikap tegas. Ia menilai bahwa pandangan yang meminta penghentian program MBG adalah sebuah kekeliruan, mengingat dampak langsung yang dirasakan oleh penerima manfaat.
Dukungan terhadap program ini bukan hanya soal memberi makan, tetapi membangun ekosistem kesehatan dan ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Sinergi antara pemenuhan gizi anak bangsa dan pemberdayaan ekonomi petani lokal menjadikan program ini sebagai salah satu instrumen vital dalam pembangunan daerah tertinggal. Keberhasilan implementasinya kini bergantung pada pengawalan ketat agar rantai pasok benar-benar berasal dari desa, untuk desa.
Dalam hal kolaborasi Bumdes-KDMP sebagai mitra MBG dapat dilihat salah satunya di Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Keterlibatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) di Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik sebagai mitra layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut dibenarkan oleh Kepala Desa Yosowilangun Abdur Rosyid saat diwawancarai Redaksi JatimUPdate.id di kantornya pada awal Maret 2026 lalu.
“Alhamdulillah, BUMDesa kami [Desa Yosowilangun] telah menjadi mitra dari program MBG [Makan Bergizi Gratis]. BUMDesa kami ini bermitra dengan Yayasan Kemala Bhayangkari yang jadi salah satu penyedia layanan MBG di Gresik,” kata Abdur Rosyid itu dimana diketahui BUMDesa Yosowilangun saat Hari Desa 2026 lalu di Kabupaten Boyolali menyabet juara II Nasional sebagai BUMDesa Terbaik itu.
Ilonka Widyawati, salah satu TAPM Kabupaten Gresik memberikan apresiasi dengan keberhasilan BUMDesa milik Pemdesa Yosowilangun itu terlibat dalam sebagai mitra MBG.
“Ini langkah inovatif yang cerdas, hal ini bisa jadi Best Practise bagi BUMDesa lainnya di Kabupaten Gresik dalam mensukseskan Program Penting Pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tersebut,” kata Ilonka kepada Redaksi JatimUPdate.id pada kesempatan yang sama.
Ilonka berharap BUMdesa di Desa Yosowilangun bisa berkolaborasi dan bersinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang ada guna menggerakkan potensi perekonomian desa.
“Kolaborasi dan sinergi BUMDesa dan KDMP akan semakin memperkuat upaya menyejahterakan dan memandirikan perekonomian desa dan warganya. Karena Desa adalah Koentji Peradaban Modern Indonesia Emas 2045,” tegas Ilonka yang dibenarkan oleh para TAPM Gresik lainnya.
Kades Yosowilangun membenarkan konsepsi kolaborasi dan sinergi mesti bisa dibangun secara sistemik oleh BUMDesa dan KDMP.
“Alhamdulillah KDMP di Yosowilangun ini kini tengah proses pembangunan gerai yang menggunakan Tanah milik Pemkab. Semoga April 2026 bangunan gerai KDMP itu bisa rampung. Nantinya akan ada pembagian peran sektor ekonomi pada BUMDesa dan KDMP agar bisa saling topang dan tidak malah bersaing atau saling mematikan dan menafikkan. Ini jadi tugas besar Pemdes menjaga keduanya bisa bersama-sama eksis di Desa,” ujar Kades Yosowilangun itu.[JARIDESA]